Gaji Guru di Berbagai Negara

Bila kita berkata, "Gaji rata-rata guru di Swiss, Luksemburg, Kanada, Jerman, dan Australia telah di atas Rp 1 miliar per tahun." Maka akan ada yang menimpali, "Iya gaji mereka besar. Tapi biaya hidup mereka juga besar."

Gaji Guru di Berbagai Negara

Bila kita berkata, "Gaji rata-rata guru di Swiss, Luksemburg, Kanada, Jerman, dan Australia telah di atas Rp 1 miliar per tahun." Maka akan ada yang menimpali, "Iya gaji mereka besar. Tapi biaya hidup mereka juga besar." Ini seolah menggambarkan bahwa kesejahteraan guru di Swiss sama saja dengan kesejahteraan guru di Indonesia. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita bisa menggunakan indikator seperti rasio gaji terhadap biaya hidup, daya beli, dan indeks kualitas hidup. Rasio gaji terhadap biaya hidup adalah perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran seseorang. Daya beli adalah kemampuan seseorang untuk membeli barang dan jasa dengan pendapatannya. Indeks kualitas hidup adalah ukuran yang menggabungkan berbagai aspek seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan, keamanan, dan kebebasan.

Sebagai informasi, gaji rata-rata guru di Swiss adalah sekitar USD 110.000 atau setara Rp 1,6 miliar per tahun. Sementara itu, gaji rata-rata guru di Indonesia adalah sekitar Rp 5,2 juta per bulan atau Rp 62,4 juta per tahun. Ini gaji rata-rata lho ya, karena gaji guru di Indonesia sangat bervariasi. Ada yang di bawah UMR tapi ada juga yang telah mencapai belasan juta rupiah perbulan.

Walau pun gaji guru di Swiss besar, namun biaya hidup di Swiss juga termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Biaya hidup rata-rata per bulan di Swiss berkisar antara 1.600 hingga 1.700 Euro atau sekitar Rp 26,2 juta hingga Rp 27,8 juta. Biaya hidup ini meliputi sewa tempat tinggal, tagihan utilitas, makanan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Sedangkan biaya hidup rata-rata per bulan di Indonesia berkisar antara Rp 5,6 juta hingga Rp 14,9 juta, tergantung kota tempat tinggal.

Ada yang menarik dari data Remitly tentang profesi idaman di Asia Tenggara.

  • Timor-Timur ingin menjadi Dokter.
  • Singapura dan Filipina ingin menjadi Penulis.
  • Vietnam ingin menjadi Penyanyi.
  • Thailand ingin menjadi Sutradara.
  • Brunei dan Malaysia ingin menjadi Guru.
  • Indonesia ingin menjadi Youtuber.

Sebagai gambaran, gaji guru adalah:

  • Brunei sekitar Rp 24,2 juta/bulan.
  • Malaysia sekitar Rp 22,5 juta/bulan.
  • Indonesia sekitar Rp 3,5 juta/bulan.

Oke, kembali ke "laptop". Karena biaya hidup di Swiss tergolong besar, apakah berarti guru di Indonesia lebih sejahtera dari pada di Swiss? Mari kita analisa.

1. Rasio Gaji vs Biaya Hidup

Rasio gaji terhadap biaya hidup untuk guru di Swiss adalah sekitar 5,4, artinya gaji guru di Swiss cukup untuk menutupi biaya hidup sekitar 5,4 kali lipat. Singkatnya, satu kali gajian bisa untuk membiayai kebutuhan sampai 5 bulan ke depan. Sementara itu, rasio gaji terhadap biaya hidup untuk guru di Indonesia adalah sekitar 0,9, artinya gaji guru di Indonesia kurang dari cukup untuk menutupi biaya hidup.

Dari segi rasio gaji terhadap biaya hidup, guru di Swiss lebih sejahtera daripada guru di Indonesia.

2. Daya Beli

Daya beli untuk guru di Swiss adalah sekitar 102, artinya gaji guru di Swiss setara dengan gaji rata-rata dunia ditambah 2 persen. Sementara itu, daya beli untuk guru di Indonesia adalah sekitar 18, artinya gaji guru di Indonesia hanya setara dengan 18 persen dari gaji rata-rata dunia.

Dari segi daya beli, guru di Swiss juga lebih sejahtera daripada guru di Indonesia.

3. Indeks Kualitas Hidup

Indeks kualitas hidup untuk Swiss adalah sekitar 192, yang menempatkan negara ini di peringkat ke-2 di dunia. Sementara itu, indeks kualitas hidup untuk Indonesia adalah sekitar 97, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-73 di dunia.

Dari segi indeks kualitas hidup, Swiss juga unggul daripada Indonesia.

Kesimpulan

Berdasarkan 3 indikator di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dalam hal ekonomi, guru-guru di Swiss lebih sejahtera meskipun biaya hidup di Swiss juga lebih tinggi.

Namun ini bukan berarti guru di Indonesia tidak sejahtera. Kesejahteraan bukan hanya tentang uang. Ada juga faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang, seperti kepuasan kerja, keseimbangan hidup dan kerja, budaya, dan nilai-nilai pribadi. Nah, untuk hal-hal yang disebutkan terakhir ini, mungkin saja guru Indonesia lebih baik.

Tetap semangat, dan tetap bersyukur menjadi Guru Indonesia. Kerja ikhlas untuk mewujudkan setiap anak-anak didik menjadi versi terbaik dari mereka, adalah suatu kepuasan batin yang tidak dapat diukur dengan uang. Bukankah begitu bapak ibu guru yang hebat?


Referensi: Bing Chat.