Jangan Marahi Anak

Jangan Marahi Anak
Foto anak saya. :)

Ketika Mirza (anakku) menumpahkan kopi yang baru kuminum sedikit.
Ketika Mirza mengacak-acak isi kamar yang baru selesai dirapikan.
Dan ketika Mirza terbangun di tengah malam kemudian kami harus sigap menyeduh susu untuknya.
Maka kami menjalani itu semua dengan senyum, sabar, dan ikhlas.

Kami menikmati masa-masa ini,
sebab kami sadar,
tak selamanya dia menjadi balita.
Suatu saat dia déwasa,
dan sesekali mungkin kami merindukan masa-masa ketika dia masih lucu-lucunya.

Anak jangan dimarahi.
Dia hanya belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan.


Sejak anakku dilahirkan sampai detik ini (dan insya Allah seterusnya) saya tidak pernah membentak atau memarahi dia. Bahkan berkata keras pun saya tak pernah.
Bila saya kesal, misalkan Mirza réwél kemudian mengacak-acak méja sampai air kopi tumpah, saya lebih memilih diam dan menahan émosi cukup di dalam hati, kemudian dengan kasih sayang, saya menggéndongnya ke luar rumah atau melihat benda-benda menarik yang ada di dalam rumah. Cara ini sering kali berhasil membuat dirinya tenang.
Memarahi anak hanya membuat dirinya dendam, dan kelak bila déwasa dia pun akan menjadi pemarah atau justru menjadi anak yang kurang inisiatif karena takut salah kemudian takut dimarahi.