Jangan Terlalu Keras

Jangan Terlalu Keras

Di Hari Anak Internasional, hari itu para murid seharian tidak belajar. Hanya bermain. Murid senang, guru pun riang.
Saya jadi teringat pada perkataan bapak Ki Hajar Dewantara: "Sekolah adalah taman, yang menyenangkan untuk belajar dan bermain."

Kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan dari lamanya belajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah suasana hati. Seorang murid yang kelelahan atau menyimpan uneg-uneg, maka yang dipelajari akan sulit diserap.
Saya pernah mendengar seorang murid yang mengeluh, "Pak, kok kita belajar melulu sih? Sekolah lain hari ini belajar di rumah."

Tak héran, Google sangat memanjakan para pegawainya. Di kantor Google ada makanan yang tersedia setiap saat. Ada fasilitas pijat, ruang game, atau ruang untuk bersantai. Bahkan Google memboléhkan 20% jam kerja dipakai untuk mengerjakan proyék pribadi atau apa pun yang disukai.

Sinyal-sinyal "memudahkan murid" pun tampak dari aturan bahwa tidak ada istilah "tidak naik kelas". Cara-cara belajar zaman dulu yang membuat murid setrés, kini diubah menjadi belajar yang menyenangkan.

Tapi sayang, di antara teman-teman pendidik masih ada yang jiwanya hidup di masa lalu. Murid harus belajar di dalam kelas sebanyak mungkin, selama mungkin. Bahkan terkesan melebihi alokasi jam belajar éféktif.
Bukan seperti itu, Ferguso. Mari senangkan murid dan guru. Bukan berarti dengan cara meliburkan selama satu tahun atau murid tidak usah belajar pun dapat nilai bagus. Bukan begitu. Tapi kita harus pandai-pandai membaca suasana hati murid. Bila semua sekolah hari ini tidak belajar, maka jadikan hari ini sebagai hari bersih-bersih kelas atau diadakan lomba-lomba menarik. Jangan paksa murid untuk belajar. Saya yakin, materi yang diajarkan tidak akan diserap. Yang ada malah hati para murid berontak. Ini berdampak pada penipisan rasa cinta dan rasa bangga kepada sekolahnya. Bila hal ini terjadi, maka siap-siaplah kualitas pendidikan di sekolah tersebut akan menurun karena murid-muridnya pasif atau malah suka bolos sekolah.

Sebagai penutup, izinkan saya mengingatkan kembali pada nasihat terkenal dari Kiai Maimun Zubair: "Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar, (sehingga) ikhlasnya jadi hilang. Yang penting (kamu) niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar (itu ada) pada (kehendak) Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah."