Pati Obong di Masa Lalu
Bagi sebagian besar dari kita, membayangkan seseorang melompat ke dalam kobaran api demi menemani pasangannya yang wafat terdengar seperti fiksi horor yang dilebih-belikan. Namun, lembaran sejarah Nusantara menyimpan fakta yang jauh lebih kelam.
Dalam maha-karya sastra Arus Balik, sastrawan Pramoedya Ananta Toer sempat menggambarkan suasana Tuban pada masa transisi agama, di mana tulang-belulang dibakar di penjuru kota dan para janda menyusul masuk ke dalam api unggun sampai lumat menjadi abu.
Pertanyaannya: Apakah narasi mengerikan ini benar-benar sejarah nyata, atau sekadar dramatisasi fiksi?
Kesaksian Para Penjelajah Dunia
Jawabannya adalah nyata. Praktik bunuh diri ritual ini di Nusantara lebih dikenal dengan nama Pati Obong (serupa dengan tradisi Sati di India) atau Belapati. Keberadaannya terekam kuat dalam berbagai catatan sejarah primer (historiografi) yang ditulis oleh para musafir dan penjelajah zaman dahulu:
1. Catatan Tomé Pires (Suma Oriental, 1512–1515)
Apoteker dan diplomat asal Portugis ini mencatat dengan jeli perbedaan adat di tanah Jawa. Pires menulis bahwa di kalangan masyarakat Jawa pedalaman yang kala itu belum memeluk Islam, sudah menjadi tradisi jika seorang raja atau penguasa agung wafat, maka para istri utama, selir, hingga pengikut setianya akan membakar diri hidup-hidup atau menenggelamkan diri ke laut demi kesetiaan.
2. Catatan Ekspedisi Cornelis de Houtman (1596)
Saat armada Belanda pertama kali tiba di Nusantara dan mengamati wilayah Bali serta ujung timur Jawa, mereka terkejut menyaksikan upacara kremasi masif. De Houtman mencatat ada sekitar 50 orang wanita—terdiri dari istri dan budak—yang ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah sang raja.
3. Tragedi Terbesar di Blambangan (1691)
Catatan paling masif mengenai ritual ini terjadi saat mangkatnya Prabu Tawang Alun II, penguasa Kerajaan Hindu Blambangan (sekarang Banyuwangi). Dokumen VOC dan sejarawan kolonial mencatat bahwa dari sekitar 400 istrinya, ada 270 hingga 300 wanita yang melompat ke dalam api kremasi sang raja secara sukarela demi doktrin kesetiaan teologis masa itu.
Sudut Pandang Medis: Berapa Lama Mereka Merasakan Sakit?
Pertanyaan yang paling sering muncul di benak kita tentu saja: Seberapa menyiksa proses tersebut? Berapa lama mereka harus menahan sakit sebelum akhirnya ajal menjemput?
Secara sains dan klinis, tubuh manusia memiliki batas dalam merespons rasa sakit yang ekstrem:
- 30 Detik Pertama yang Menyiksa: Kulit manusia dipenuhi reseptor rasa sakit (nociceptor). Detik-detik awal saat menyentuh api adalah fase nyeri terhebat yang mengirimkan sinyal syok masif ke otak.
- Mati Rasa Instan: Kabar "baiknya" secara biologis, api yang sangat besar akan menghancurkan ujung-ujung saraf kulit (luka bakar derajat tiga/empat) dalam waktu kurang dari satu menit. Begitu sarafnya rusak total, tubuh justru kehilangan kemampuan mengirim sinyal rasa sakit (mati rasa lokal).
- Pingsan Sebelum Tewas: Korban umumnya tidak meninggal karena terbakar, melainkan karena menghirup gas beracun (CO dan hidrogen sianida) serta udara super panas yang membakar saluran pernapasan. Kekurangan oksigen ke otak membuat korban pingsan dalam hitungan 30 hingga 60 detik. Kematian biologis terjadi setelahnya dalam kondisi tidak sadar.
Siasat Menghindari Siksaan Api: Antara Pati Obong dan Belapati
Karena ketakutan akan api adalah insting dasar manusia, para perempuan di masa lalu memiliki "opsi" lain yang dianggap lebih meringankan penderitaan. Di sinilah sejarawan membedakan antara Pati Obong dan Belapati.
Pati Obong: Korban melompat langsung ke dalam kobaran api dalam kondisi hidup-hidup.
Belapati: Korban memilih untuk mati atau dibuat tidak sadar terlebih dahulu di luar area api.
Banyak wanita bangsawan yang memilih jalur Belapati. Mereka akan berdiri di panggung tinggi di atas api, lalu menusuk jantung atau leher mereka sendiri menggunakan keris (atau meminta kerabat laki-lakinya untuk menusuk mereka).
Jika menggunakan metode memotong nadi di tangan, proses kehilangan kesadaran bisa memakan waktu berjam-jam dan menyiksa. Oleh karena itu, tikaman langsung ke jantung atau pemutusan pembuluh darah leher (Arteri Karotis) menjadi pilihan karena hanya butuh 5 hingga 15 detik sampai kesadaran hilang total akibat runtuhnya tekanan darah ke otak. Begitu mereka tewas karena kehabisan darah, barulah jenazahnya jatuh atau didorong ke dalam api.
Selain itu, penggunaan candu (opium) dosis tinggi sebelum upacara juga menjadi praktik yang lazim agar para korban berada dalam kondisi teler berat, setengah sadar, atau bahkan koma sebelum ritual eksekusi dimulai.
Akhir dari Sebuah Tradisi Kelam
Seiring meluasnya pengaruh Islam di pesisir Jawa yang menawarkan penghapusan sistem kasta serta pemuliaan hak hidup perempuan, tradisi mengerikan ini perlahan-lahan surut dan menghilang dari tanah Jawa.
Di Bali, praktik ini sempat bertahan lebih lama dan dikenal dengan nama ritual Sati. Namun, setelah melalui tekanan politik dan moral yang panjang, pemerintah kolonial Hindia Belanda akhirnya melarang total ritual ini secara hukum pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1903–1905).
Membaca kembali sejarah Pati Obong memberikan kita perspektif baru: bahwa kedamaian dan jaminan hak hidup yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari evolusi panjang peradaban yang pernah melewati masa-masa yang sangat dingin dan kelam.